Poststrukturalisme

Kritik budaya oleh Hal Foster menandai peralihan dari modern menuju ke post modern. Peralihan ini melalui dua ide yang secara langsung diambil dari kritik sastra dan budaya Roland Barthes.  Beberapa orang akan beranggapan sulit untuk membedakan antara strukturalisme dan post strukturalisme. Dalam essainya “ ( Post ) Modern Polemics “ dia menghubungkan pekerjaan struktural dengan kestabilan dari komponen – komponen tanda, sedangkan teks poststrkturalisme mencerminkan pembubaran dari tanda dan pelepasan dari penanda. Kemudian Barthes menulis bahwa penanda mempunyai peluang untuk “ free play “ dan akhir yang berbeda – beda pada artinya, yang mana hal ini merupakan hasil rantai tak terbatas dari metafor.

Poststrukturalisme yang mana memulai kritikan dari tanda, mempertanyakan : apakah benar suatu tanda haya terdir dari dua bagian ( penanda dan yang ditandai ), atau apakah hal ini tidak targantung juga pada kehadiran semua penanda lainnya yang tidak berkaitan, dari mana hal itu brbeda?Terry Eagleton ( Teori Marxisme ) menunjukkan bahwa sementara strukturalisme membagi tanda – tanda tersebut dari hubungan ( objek berhubungan dengan ), maka poststrukturalisme melangkah lebih maju dan membagi penanda dari yang ditandai. Hasilnya dari pemikiran ini adalah : “ makna tidak secara tiba – tiba hadir dalam sebuah tanda “.

Cara lain untuk menandai peralihan dari masa strukturalisme menuju post strukturalisme adalah : pada tahun 1970 – an terjadi perubahan cara pandang bahasa secara objektif ( sebagai suatu objek yang independen dari subjek manusia ), cara pandang lama berubah menjadi melihat suatu bahasa sebagai percakapan dari suatu subjek. Menurut Eagleton percakapan berarti bahasa dipahami sebagai ungkapan. Dan dalam pengetahuan post strukturalisme mengenai hubungan antara pembicara dan penonton merupakan peran penting dalam dialog pada komunikasi linguistik.

Sebelum strukturalisme, tindakan interpretasi dilakukan untuk menemukan arti yang melibatkan tujuan pengarang dan pembaca. Strukturalisme tidak berusaha untuk memberikan makna sebenarnya dari pekerjaan tersebut atau untuk mengevaluasi pekerjaan tersebut berkaitan dengan aturan yang berlaku. Dalam poststrukturalisme, makna dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak penting.

Paradigma poststrukturalisme menimbulkan dua pertanyaan mengenai kegunaan post modern architecture, menurut Foster dalam “ ( Post ) Modern Polemic “ : status dari subjek dan bahasa, dan status dari sejarah dan perwakilannya. Keduanya merupakan gagasan yang terbentuk oleh sebagian masyarakat. Pada kenyataannya, objek dari kritik poststrukturalis adalah untuk mendemonstrasikan bahwa semua kenyataan diangkat oleh perwakilan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s