Phenomenology

Satu aspeknya yaitu kebenaran teori arsitektur pada metode filosofi yang dikenal dengan nama phenomenology, yaitu bahwa ancaman philosophical ini berdasarkan pada kebiasaan postmodern melalui tempat, pandangan dan pembuatan yang kadangkala terlihat berlebihan dan tak dapat dipertanyakan. Teoriterbaru telah menunjukkna spekulasi dari filosofi dengan membuat masalah pada interaksi tubuh dengan lingkungannya. Visual dan sensasi oural merupakan bagian penting dalam arsitektur penerimaan.

Didahului dengan hasil kerja Martin Heidgger dan Gaston Bachelard, pemikiran phenomenological arsitektur telah mulai untuk tidak menempatkan formalitas dan bergantung pada pekerjaan tanah untuk kecantikan mendadak. Phenomenology mengkritik logika dari ilmuwan yang melalui pemikiran positif telah dielevasikan dan tidak diberi nilai, tampil seperti postmodernist yang berpilir ulang menjadi modernity dengan hanya sedikit antusias.

Tulisan Heidegger dimotivasikan dengan kekhawatiran mengenai ketidakmampuan orang modern untuk merefleksikan hidup sebagai manusia. Salah satu phenomenological yang sangat berpengaruh terhadap arsitektur yaitu “Building Dwelling Thinking”, dimana adanya hubungan antara tempat tinggal, manusia, konstruksi dan sparing. Oleh Heidegger tampat tinggal didefinisikan sebagai ‘tempat untuk bermalam’.

Christian Norberg-Schulz mengartikan konsep rumah tinggal Heiegger sebagai berada di tempat yang damai pada tempat yang telah dilindungi. Menurutnya, tujuan utama daru arsitektur adalah untuk membuat dunia terlihat. Norberg-Schulz dinobatkan sebagai arsitektur yang phenomenology, yaitu, perhatian dengan ruang yang konkrit melalui seluruh tempat.

Mies ingin menyampaikan bahwa “Tuhan adalah detail”. Pemikiran ini tidak hanya dikenali dan dirayakan sebagai elemen dasar dari arsitektur ( dinding, lantai, tembok, dll sebagai sebuah pembatas atau beban ) tetapi juga menunjuk ke arah ketertarikan yang dibentuk ulang dalam kualitas yang sensualalam material, cahaya, dan warna, dan pada symbol merupakan sebuah hal yang signifikan untuk digabungkan.

Perez-Gomez mengembangkan konsep Heidegger tentang tempat tinggal, untuk memungkinkan ‘orientasi keberadaan’ pengenalan budaya dan hubungan dengan sejarah. Phenomenology Finnish, Juhani Pallasmoa, mengartikan sebagai arsitektur dari fisik

The Blob that Ate Queens karya arsitekBuro Happold. Bangunan ini membawa ciri dari bangunan postmodern yang mempunyai kebiasaan melebih-lebihkan sesuatu, tanpa melihat dari segi fungsionalnya.  Terlihat dari bangunan yang ada di depan, sangat jelas bahwa bangunan ini telah meninggalkan bentuk kota-kotak formal yang menjadi ciri arsitektur modern. Bangunan ini cenderung mempunyai bentukan yang spektakular, jauh dari kelaziman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s