Persoalan inti dalam teori pengetahuan

Berbicara tentang epistemology, dengan sendirinya harus maebicarakan tentang hakikat pengetahuan, sumber pengetahuan dan metode memperoleh pengetahuan. Ranah pertama yang menjadi kajian pengetahuan (epistemology) adalah apakah hakikat pengetahuan itu. Secara umum dipahami, pengetahuan adalah semua yang diketahui. Menurut Jujun S. Suriasumantri, pengetahuan adalah sebuah produk dari suatu proses kegiatan mental yang berupa berpikir. Untuk lebih jelasnya akan dibahas satu persatu sebagai berikut.

1. Hakikat Pengetahuan

Dalam masalah hakikat pengetahuan terdapat dua teori yang saling melengkapi, yaitu teori idealisme dan teori realisme. Pertama, teori idelisme merupakan sebuah teori tentang hakikat pengetahuan yang didasarkan pada pemahaman bahwa hakikat dari segala sesuatu adalah jiwa atau ide, bukan materi.  Dengan kata lain jiwa di alam semesta ini menduduki posisi sentral.

Kedua teori realisme, teori ini didasarkan pada pandangan yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu di alam ini adalah benda-benda sendirinya yang riil (being is being) dan bukan berada di alam ide. Kedua teori ini menimbulkan perbedaan sifat dasar pengetahuan. Karena hakikat pengetahuan didasarkan pada sesuatu yang bersifat abstarak (ide, jiwa, spirit), maka sifat pengetahuan dari teori idealisme adalah subyektif. Artinya pengetahuan sangat ditentukan oleh jiwa dan ide yang ada dalam diri seseorang. Sebaliknya, teori realisme yang didasarkan pada sesuatu yang bersifat konkrit (misalnya: air, udara, tanah,dll), maka lebih bersifat obyektif.

2. Sumber Pengetahuan

Pembicaraan selanjutnya adalah sumber pengetahuan. Berkaitan dengan pengetahuan, telah muncul beberapa aliran yang semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pertama, aliran rasionalisme, yaitu aliran epstemilogy yang berpendapat bahwa suber dari seluruh pengetahuan manusia adalah easio atau akal. Kaum rasioanlis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Rasionalisme dengan pemikiran deduktifnya sering manghasilkan kesimpulan yang benar bila ditinjau dari alu-alur logikanya, namun ternyata sangat bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Yang kedua, empirisme, yaitu aliran epistemology yang berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman pancaindra. Pengalaman disini bersifat lahiriah (sensation) ataupun bathiniah (reflection). Berlainan dengan kaum tasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan empirs adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan lewat tanggapan pancaindra manusia. Pengetahuan secara empiris ini ialah bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk menjadi suatu kumpulan fakta-fakta.

Disamping rasionalisma dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk kita ketahui adala intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya pernyataan yang dikemukakan.

Yang terakhir adalah wahyu, yaitu pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya sepanjang zaman. Pengrtahuan ini didasarkan pada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supranatural). Kepercayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada Nabi sebagai perantara dan kepercayaan kepada wahyu sebagai cara penyampaian, merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini.

3. Metode Memperoleh Pengetahuan

Selanjutnya, manusia dalam upaya untuk memperoleh pengetahuan telah telah menggunakan berbagai cara. Sesuai dengan perkembangan sejarah manusia, metode yang digunakan dalam memperoleh pengetahuan mengalami gradasi yang cukup unik.

Pertama manusia memperoleh pengetahuan dengan cara melihat, mendengar, membau dan memegang. Setelah manusia mengindera sesuatu yang dilanjutkan dengan mengetahui sesuatu tersebut, maka muncul metode empirisme, karena empirisme itu sendiri berarti pengalaman. Metode kedua adalah dengan menggunakan akal yang mampu memahami sesuatu yang lebih tinggi. Istilah-istilah abstrak, konsep atau bahkan ide-ide sederhana sekalipun. Dan metode yang ketiga adalah dengan menggunakan hati nurani dan alat-alat indera dalam memperoleh pengetahuan. Jadi secara singkat dapat dikatakan, metode yang digunakan manusia dalam memperoleh pengetahuan adalah dari pengalaman indera lahir (empirisme), akal (rasionalisme) dan rasa atau indera batin (intuisionisme).

Bila melihat hakikat, sumber dan metode memperoleh pengetahuan di atas secara umum, maka pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, pengetahuan mistik merupakan pengetahuan yang pertama muncul dalam sejarah manusia. Pengetahuan ini memiliki obyek yang abstrak supralogis atau metarasioanl, menggunakan paradigma mistis. Metode yang digunakan untuk mencapai pengetahuan ini adalah dengan latihan atau meditasi. Kebenarannya ditentukan oleh rasa atau dzauq.

Kedua pengetahuan filsafat memiliki obyek abstrak tapi logis. Paradigma yang digunakan adalah paradigna logis, dengan menggunakan metode rasio atau pemikiran. Adapun kebenarannya diukur dengan apakah pengetahuan tesebut logis atau tidak logis. Dan ketiga, pengetahuan sains memiliki obyek empiris, mengunakan paradigma positif, metode yang ahrus digunakan adalah metode ilmiah, dan kebenarannya diukur apakah pengetahuan tersebut logis dan terbukti secara empiris atau tidak.

Pengetahuan yang dianggap benar atau valid dapat dilihat dari tingkat koherensi, korespondensi dan pragmatisnya. Dengan kata lain untuk menguji dan mengukur sebuah ide filosofis itu benar atau tidak terdapat teori yang dikembangkan  para filosofis. Pertama, teori koherensi. Kebenaran pada dasarnya adalah terwujudnya konsistensi dan keharmonisan dari seluruh pernyataan. Pernyataan pada berbagai tingkatannya harus konsisten daan harmonis. Kedua, teori korespondensi. Kebenaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu sendiri. dan   ketiga, teori pragmatis. Kebenaran terletak pada beberapa fungsionalnya  kebenaran tersebut dalam kehidupan praktis, artinya hal tersebut mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia. Kriteria pragmatis ini juga dipergunakan oleh ilmuwan dalam menetukan kebenaran ilmiah dilihat dalam perspektif waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s