Feminisme

Pada tahun 1960 – an terdapat pencabutan hak memilih dari suatu kelompok demokratis sosial yang berpura – pura yang ditegaskan berdasarkan jenis kelamin, ras, atau perbedaan seksual. Yang terbaru, hal itu telah disoroti oleh murid – murid muda, bahkan terdapat gay atau wanita. Pendekatan kritikal yang bermunculan untuk persamaan keadilan, pencantuman, dan akhir dari prasangka, dikenal sebagai “ the critique of the Other “. Hal ini diperluas dengan adanya diskusi arsitektur dan seni lain dari dasar formal yang didominasi oleh pengaruh  teori late modern dan kritikan kultural, sejarah, dan etnik. Contoh penting dari “ the critique of the Other “ adallah feminisme.

Untuk memakai jenis kelamin sebagai dasar pengontrol sosial maka pada feminisme dipergunakan paradigma kritis, di mana pada dalamnya termasuk post strukturalisme, marxisme, dan psikoanalisis. Dalam sejarah, jenis kelamin telah dipergunakan untuk membatasi antara satu dengan yang lainnya. Dalam teori Chris Weedon hal ini ditunjuk sebagai suatu keaslian dan implikasi terhadap jenis kelamin :

Psikoanalisis menawarkan teori universal mengenai pembangunan fisik jenis kelamin pada dasar perwakilan ( bagian dari biseksual anak ), hal ini menawarkan sebuah rencana di mana kefeminiman dan kemaskulinan dapat dimengerti dan teori akan keadaran, bahasa, dan artinya.

Kritik feminisme mengenai arsitektur bertujuan untuk mengejar teori dan pelatihan secara ketat pada kenyataan sosialnya. Hal ini dipengaruhi oleh adanya analisis dari Freudian dan Derridean. Agrest mempercayai bahwa sistem dari arsitektur ditegaskan keduanya dengan apa yang diikutsertakan dan apa yang tidak. Agrest beranggapan bahwa tanggung jawab dari ketidakberdayaan adalah suatu keuntungan :

Di luar ini merupakan tempat dimana seseorang dapat mengambil jarak dari sistem arsitektur yang bersifat tertutup dan menjadi bagian dalam posisi untuk memeriksa ( arsitektur ) mekanisme dari pengakhiran, ini merupakan mekanisme ideologi untuk menyaring, untuk mengaburkan batasan – batasan yang memisahkan arsitektur dari ilmu – ilmu lainnya.

Dapat dikatakan bahwa dalam paradigma Feminisme ini menginginkan adanya persamaan, dan pengaplikasiannya terhadap dunia arsitektur dapat dilihat pada contoh di bawah ini.

Paradigma Feminisme pada bangunan di samping tampak pada adanya kesamaan antara bangunan tersebut dengan bangunan – bangunan yang terdapat di sekitarnya. Hal ini menegaskan mengenai ciri paradigma ini yang menginginkan adanya suatu persamaan.

Kesamaan – kesamaan bangunan itu dengan sekitarnya adalah dengan digunakannya bentukan kotak atau bersegi yang sama dengan bangunan – bangunan di sampingnya. Dan lagi penggunaan bahan – bahannya pun mempunyai kesamaan dengan bangunan di sampingnya. Sehingga tampak bahwa di daerah sekitar itu tidak terdapat satu bangunan yang menonjol baik dalam bentuk, pengolahan façade, dan sebagainya, yang terlihat adalah suatu kesamaan antar bangunan.

3 thoughts on “Feminisme

  1. apakah ini terjemahan? mungkin sebaiknya lebih diperhalus lagi cara menerjemahkannya. btw, topik yang menarik, boleh saya tau sumber2nya dari mana saja? untuk keperluan skripsi. terima kasih.

  2. bagaimana dengan ciri khas dari arsitektur feminisme itu sendir1?saya lihat dari karya2 Zaha jauh dari paradigma persamaan..cenderung mengurangi garis2 kaku dan lebih meng-eksploitasi garis lengkung…..bukannya itu cenderung ingin merubah dan tidak mau disamakan dengan aristektur modern yang hanya sekedar kotak2…disini karya zaha mengarah ke future arsitektur…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s